Tahun 2014,, adalah tahun yang sangat luar biasa bagi saya, karna pada tahun ini merupakan tahun dimana saya melepas pakaian SMA ( walau sebenarnya saya lulusan SMK).
Ujian nasional pun telah selesai, dan akhirnya perang terbesar Anak SMA dan sederajat telah selesai,, dan dimana tidak ada satu pun yang gugur (Terkhusus Sekolahku), Kami semua berfikir setelah perang ini, kami mutlak telah menang, tetapi kami salah. ternyata setelah kelulusan kami mendapat tantangan baru yang pada waktu itu ada dua pilihan, yang pertama gag usah lanjut kuliah tapi bantuin orang tua kerja jualan, atau pilihan kedua lanjut kuliah, dan pada waktu itu saya memilih lanjut. Walau ada beberapa teman memilih untuk perang di tempat lain (opsi pilihan pertama).
Subahannal... betapa luar biasanya pilihan kedua itu,, yg dimana tidak segampang yang saya rasakan.. masih banyak kebingungan kebingungan yang terjadi, mulai dari mau kuliah dimana, dan dimakassar tinggal sama siapa. Kampus tujuan petamaku adalah UNHAS yang dimana kalau mau masuk disitu harus tes dulu (SBMPTN), yang soalnya lebih kejam dari Ujian nasional (resiko belajar tidak max) jadi hasilnya juga mengecewakan (tidak lulus masuk unhas) aduh aduh aduh.... tapi semangat ku untuk tetap kuliah masih membara, jadi saya lanjut lagi menuju ke POLTEKES.
Pengalaman tes di poltekes liar binasa banget. Waktu itu saya di tes di kampus gizi yang terletak di daya. Pada saat saya tiba di depan kampus dengan uang di dompet 50 ribu (nominal yang cukup besar bagi saya), eh ternya mahasiswa poltekes lagi memanfaatkan datangnnya CALON MAHASISWA BARU, yaitu penggalangan dana dengan cara jual jualan.
Pas di pintu gerbang penjual stiker sudah menghadang dengan Tank perang dan bazoka nuklir (luar biasa kan hehheheh), keadan waktu itu saya masih fine fine ajah... boleh juga nih, kebetulan saya bawa duit, pas saya ambil barangnya, ternyata dan ternyata harga 1 stikernya itu 10 ribu 1... wow amazing ( anggap pengorbanan buat bisa masuk poltekes), dan aku hampir bertemu pedagang sebanyak 5 kali ( yang satunya berhasil kuhindari heheheh). Saya pulang dengan menyisahkan uang 10 ribu buat ongkos pete pete ke tidung ( rumah kerabat jauh). Beberapa hari kemudian hasilnya pun keluar, dan sama pada ujian SBMPTN saya gag lulus. Saya pulang ke kampung dengan harapan dan semangat yang masih ada tapi sedikit.
BERSAMBUNG.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar